Khamis, 30 Mei 2019

Syeikh Nuruddin Albanjari dalam sebuah ceramahnya pernah memberi pertanyaan kepada para jamaahnya. "Kenapa tidak ada seorang pun pemain sepak bola yang membawa handphone mereka masuk padang ketika bertanding?"
Jamaah terdiam, tidak ada satu pun yang menjawab.
Kemudian Syeikh melanjutkan. "Sebab tidak ada kepentingan. Mereka hanya perlu fokus pada permainan mereka. Jadi kenapa kita perlu membawa handphone ketika masuk ke rumah ALLAH atau Masjid? Apakah padang bola itu lebih mulia daripada masjid? Atau apakah bermain bola itu perlu lebih fokus atau khusyuk daripada sholat ?"

"Mulai sekarang!, belajarlah!. Belajarlah untuk tidak menyibukkan diri dengan handphone dalam rumah ALLAH (Masjid) karena tidak ada urusan yang lebih penting daripada urusan kita dengan ALLAH.
"Jaga adab kita dengan ALLAH."

Syeikh Abdurrahman Assudais, Imam Mesjidil Haram, di suatu masa ketika mengimamkan shalat di depan Ka`bah, beliau mendengar suara alunan musik dari salah satu handphone milik seorang jemaah yang turut sholat di belakangnya. Setelah selesai sholat beliau bangkit sambil menangis, ia berkata kepada jamaah sholat, "Saya belum pernah mendengar musik di rumah saya, tetapi hari ini saya mendengar musik di rumah ALLAH".

Mari kita hormati dengan ketaqwaan yang amat sangat pada ALLAH SWT, utamanya pada saat kita berada di dalam masjid ... Matikan HP & di dalam masjid
Wassalam

Pada zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa wasallam, hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid, yang berumur 35 tahun, namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah (teras) masjid Madinah. Ketika sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid…selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah Saw menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid, sambil tertunduk tak kuasa melihat kharismatik wajah Beliau.
“Maksudku kenapa engkau selama ini membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…,?” Tanya Rasulullah Saw.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku tak tampan, siapa yang mau dengan diriku ya Rasulullah?”
”Asal engkau mau, itu urusan yang mudah.” Kata Rasulullah Saw sambil tersenyum.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan Sahabatnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Setelah surat itu selesai ditulis, maka Rasulullah memberikan surat tersebut kepada Zahid dan memerintahkan agar segera mendatangi rumah Said dan menyerahkan surat lamaran tersebut kepadanya. Disebabkan di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasulullah yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Wah, ini adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya. Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong...”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini… bukankah lebih baik dipersilahkan masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Di saat Zulfah melihat Zahid, sambil menangis ia berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau dengan dia ayah..!” Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasulullah?”
Akhirnya Said berkata, “Lamaran kepada dirimu ini adalah perintah Rasulullah.”
Zulfah kaget kemudian beristighfar beberapa kali, أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...
Ia menyesal atas kelancangan perbuatannya itu. Seketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini. Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surah An Nur:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور ٥١)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diminta Allah dan Rasul-Nya agar Rasul yang mengadili (mengambil keputusan ) diantara mereka, ucapan yang muncul hanyalah : Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. An Nur 24:Ayat 51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang-layang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya, dan segera melangkah pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasulullah yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah lamarannya diterima ya Rasulallah,” jawab Zahid.
“Apakah sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasulallah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke beberapa sahahbat untuk membantunya mendapatkan uang untuk menikah. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan perkawinan. Tak lama kemudian setibanya di pasar, bersamaan itu pula ada pengumuman Jihad untuk perang melawan orang kafir yang mau menyerang masyarakat muslim Madinah. Zahid Mulai bingung untuk menentukan sikap, menikah atau berjuang demi Agama Allah. Akhirnya dia mencoba kembali lagi ke masjid.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengetahui?”
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah jika begitu uang untuk menikah ini akan aku belikan baju besi dan kuda yg terbaik, aku lebih memilih jihad bersama Rasulullah dan menunda pernikahan ini."
Para sahabat menasihatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau malah hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Hatiku sudah mantap untuk bersama Al Musthafa Rasulullah pergi berjihad.”
Lalu Zahid membacakan ayat AlQur'an di hadapan sahabat Nabi:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة ٢٤)
“Katakanlah, Jika bapak -bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai , itu semua lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah, 9:24).

Akhirnya Zahid maju ke medan pertempuran. Dengan hebatnya beliau bertempur, banyak dari kaum kafirin tewas di tangannya dan pada akhirnya beliau mendapatkan syahid. Gugur demi membela agama Allah dan Rasulullah. . . Peperangan telah usai, kemenangan direbut oleh Rasul dan pasukannya. Senja yang penuh dengan keberkahan ketika Rasullullah memeriksa satu persatu yang telah gugur di jalan Allah, sebagai Syuhada Allahu azza wajalla. Nampak dari kejauhan sosok pemuda yg bersimbah darah dengan luka bekas sasatan pedang.

Rasulullah menghampiri jasad pemuda itu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan manusia agung ini. Habiballah memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, "Bukankah engkau ya Zahid yg hendak menikah malam ini ??" Tapi engkau memilih keridhaan Allah, berjihad bersamaku."

Tak lama kemudian Rasulullah tersenyum sembari memalingkan muka ke sebelah kiri karena malu.
Disebabkan karena ternyata sesosok bidadari cantik dari Surga menjemput Ruh mulia pemuda ini, dan tak sengaja gaunnya tersingkap hingga betisnya yang indah terlihat. Ini yang membuat Rasulullah malu. Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an;
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (آل عمران ١٦٩ - ١٧٠)
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sejatinya mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan bahagia disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(QS. Ali Imran, 3:169-170.)

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata, dan Zulfah pun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Rabu, 29 Mei 2019

Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahawa suatu ketika Beliau pernah bertemu dengan syaitan yang lari tercirit-birit tunggang langgang. Melihat kejadian yang tak biasa itu Nabi merasa sedikit hairan. Sebab itu, kemudian Rasulullah menahannya, dan bertanya : "Hai syaitan, kenapa engkau lari tunggang langgang ? apakah yang engkau takuti ?". Jawab syaitan : "Iya, aku melihat bayang-bayang Umar bin Khaththab, kerananya aku lari".


Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a berkata bahwa Umar bin al Khaththab r.a pernah meminta izin untuk bertemu Rasulullah SAW di mana pada waktu itu para wanita Quraisy sedang berbicara dengan beliau dengan suara keras hingga mengalahkan suara beliau. Ketika mereka mendengar suara Umar, maka para wanita dengan segera mengambil hijab, lalu Rasulullah SAW mengizinkan Umar untuk masuk. Saat Umar masuk, Rasulullah sedang tertawa. Umar bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah, bapak dan ibuku sebagai tebusanmu, apa yang membuatmu tertawa?”


Beliau bersabda, “Aku hairan terhadap para wanita di sini, tatkala mendengar suaramu, mereka bergegas mengambil hijab.” Umar berkata, “Wahai Rasulullah engkau lebih berhak disegani.” Kemudian Umar berkata, “Wahai kaum wanita kenapa kalian lebih segan terhadapku daripada kepada Rasulullah?” Mereka menjawab, “Kerana engkau lebih keras dan lebih garang.” Maka Rasulullah bersabda,“Wahai Umar, demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sudah cukup untuk mengerti kemuliaanmu bahawa tidaklah syaitan terserempak denganmu melainkan memilih jalan selain jalan yang engkau lalu.”

(Muttafaqun ‘alaih dan dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah r.a dengan jalur lain).



Rasulullah pernah bersabda ; "Sesungguhnya syaitan lari darimu wahai Umar! Ketika saya sedang duduk di sini, kemudian orang-orang ini masuk, dan belum lama sebelum kamu masuk, dia melakukan seperti itu.”


(HR. Ahmad dan Tirmizi)


Dari sisi lain Nabi juga pernah bersabda, dalam riwayat Al Hakim dan Ibnu Asakir :اتّقوا غضب عمر فانّ الله يغضب اذا غضب
"Takutlah kalian terhadap kemarahan Umar, karna sesungguhnya Allah akan murka bila Umar marah".


Mengapa syaitan takut dengan Sayyidina Umar namun boleh mendekati Rasulullah (ﷺ )? Maka Ibn al-Qayyim berkata, "Hawa nafsu adalah musuh manusia, jika dia menaklukkan musuhnya dan menawannya, kekuasaannya lebih kuat dan lengkap daripada yang tidak ada musuh." Ini adalah hal keadaan Rasulullah (damai dan rahmat Allah untuk sekalian alam) yang mana sifatnya lebih sempurna dari Sayyidina 'Umar ketika Shaytan melihatnya melarikan diri darinya".


Bahkan tugas Rasulullah ﷺ sebagai pendakwah kepada manusia dan jin syaitan. Banyak hadis melaporkan bahawa beberapa kali Rasulullah berjumpa dengan kelompok jin untuk mendakwah mereka.


Ust Iqbal Zain




Imam Al-Ghazali mengatakan: “Untuk mengatasi kendala rezeki, sebenarnya engkau cukup bertawakal dengan sebenar-benarnya, yakni engkau pasrahkan kepada Allah dalam urusan sumber rezeki dan kebutuhanmu, dalam semua keadaan.”

Menurutnya, ada dua alasan mengapa kita harus bertawakal kepada Allah:

1) ”Agar engkau bisa berkonsentrasi penuh beribadah dan berbuat kebaikan lainnya. Sebab, orang yang tidak bertawakal (berserahdiri) pasti lahir dan batinyya lebih sibuk pada urusan mencari rezeki dan kebutuhan dunia lainnya daripada beribadah kepada Allah. Ia menggunakan tubuhnya untuk bekera sepanjang hari untuk memperoleh nafkah, namun hati dan pikirannya selalu memikirkan rezeki dengan rasa was-was. Padahal, ibadah itu membutuhkan konsentrasi hati dan tubuh, sementara konsentrasi itu tak bakal terwujud kecuali pada orang-orang yang memasrahkan diri secara total.


2) Meninggakkan sikap tawakal itu membahayakan iman kita. Bukankah Allah telah menyertakan rezeki kepada makhluk-Nya? “Dan bertawakallah kepada Allah yang Maha Hidup kekal, yang tidak akan mati.” (QS Al-Furqan: 58). “Dan hanya kepada Allah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman,” (QS Al-Maidah: 23)

Maka, barangsiapa yang tidak memahami ayat ini berarti tidak merasa cukup dengan janji Allah, tidak tenang dengan jaminannya, dan tidak puas dengan pembagian rezeki-Nya. Lalu, ia lalai untuk menjalankan perintah-Nya, lupa janji ancaman-Nya. Maka, lihatlah bagaimana jadinya orang ini, ujian apa yang bakal dijalani akibat perbuatan semacam ini.

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abdullah bin Umar r.a., “Bagaimana jika engkau tinggal di tengah-tengah kaum yang suka menimbun harta mereka selama setahun karena kurang percaya dan kurang bergantung kepada Allah?”

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Allah SWT melaknat kaum yang tidak percaya dengan janji-Nya dalam soal rezeki.”

Diriwayatkan bahwa ada seorang penggali kubur telah bertobat dengan karena sebab Abu Yaziid al-Busthami. Abu Yazid lalu menanyakan keadaannya, dan penggali kubur itu menjawab, “Aku telah menggali seribu liang lahat dan aku tidak pernah melihat wajah mereka menghadap kiblat, kecuali dua orang lelaki.”

Abu Yazid kemudian berkata, “Sungguh kasihan mereka. Wajah mereka dipalingkan dari arah kiblat lantaran meragukan rezeki dari-Nya.”

Seorang sahabat saya menuturkan bahwa dalam mimpinya dia melihat seorang yang saleh, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apakah engkau selamat karena imanmu?” Orang saleh itu menjawab, “Iman hanya menyelamatkan orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala, semoga Dia memperbaiki kita dengan anugerah-Nya dan tidak menyiksa kita walau sebenarnya kita memang pantas untuk disiksa. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dari yang paling pengasih.”

--Dikutip dari Kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali

Realitas bulan suci Ramadhan di masa Nabi saw dapat digambarkan sebagai berikut:

1⃣ Bulan Ramadhan tahun ke 2 Hijriyyah, Nabi saw dan para shahabat untuk pertama kali melaksanakan kewajiban puasa fardlu di bulan suci Ramadhan. Pada tahun yang sama, Nabi saw dan kaum Muslim menunaikan zakat fithrah dan mengerjakan sholat Iedul Fithriy untuk yang pertama kali.
2⃣Suasana Ramadhan di masa Nabi saw dipenuhi suasana ibadah, perjuangan, dan taqarrub kepada Allah swt. Nabi saw mendorong kaum Muslim untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan itu dengan memperbanyak amal kebajikan. Pasalnya, syahr ash-shiyaam adalah bulan dimana Allah swt melipatgandakan pahala ibadah dan amal kebajikan kaum Muslim.
3⃣ Tidak hanya memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah mahdlah saja, seperti sholat tarawih, membaca Al Quran, sedekah, dzikir, dan lain-lain, namun, bulan suci Ramadhan di masa Nabi saw juga diisi dengan aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir. Tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriyah, Nabi saw dan para shahabat berperang melawan pasukan Quraisy di Badar (Perang Badar al-Kubra). Peperangan ini berhasil dimenangkan secara gemilang oleh kaum Muslim. Pada tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah, beliau saw dan para shahabat menaklukkan kota Mekah.
Tradisi Ramadhan di masa Rasulullah saw terus dipelihara dan dilanjutkan hingga generas-generasi berikutnya.

*Realitas Puasa Di Masa Khulafaur Rasyidin*
Pada masa Khulafaur Rasyidin, suasana Ramadhan tidak ubahnya dengan suasana Ramadhan di era Nabi saw. Namun, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas dan jumlah kaum Muslim semakin bertambah banyak. Suasana Ramadhan pun semakin marak dan pengaruhnya semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Realitas di bawah ini setidaknya bisa menggambarkan suasana Ramadhan di masa Khulafaur Rasyidin.
 *Setiap akhir bulan Syaban dan Ramadhan, para shahabat memantau hilal* untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan sebagaimana perintah Nabi Mohammad saw. [HR. Imam Abu Dawud]
 *Memulai dan mengakhiri puasa secara serentak pada hari yang sama untuk wilayah-wilayah dekat. Sedangkan untuk wilayah yang jauh dibiarkan mengawali dan mengakhiri puasa sama dengan pusat kota, dikarenakan adanya kesulitan dalam mendistribusikan informasi rukyat.* [Kasyf al-Ghammah 'An Jamii' al-Ummah, juz 1/250]
 *Para Khalifah berkhuthbah di hadapan masyarakat pada malam pertama bulan Ramadhan.* Jika malam pertama bulan Ramadhan telah masuk, Khalifah Umar bin Khaththab ra segera sholat Maghrib dan berkhuthbah di hadapan masyarakat. [Mushannaf 'Abdur Razaq, juz 4/264]
 *Pada masa Umar bin Khaththab, kaum Muslim menyelenggarakan sholat tarwih di masjid secara berjamaah dipimpin oleh seorang imam.* Beliau juga mengirim surat kepada para wali agar mereka menyelenggarakan sholat tarwih secara berjamaah di masjid. [Imam Nawawiy, al-Majmuu', juz 3/527]. Adapun pada masa Nabi saw dan Abu Bakar ra, kaum Muslim mengerjakan sholat tarwih secara beragam, ada yang sendirian dan ada pula yang berjamaah.
 *Umar bin Khaththab ra menyalakan pelita di masjid sepanjang malam pada bulan Ramadhan*. [Imam Suyuthiy, Tarikh al-Khulafaa`, hal. 128]
 *Para khalifah dan kaum Muslim menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi shaa`imuun.* Tidak hanya itu saja, mereka juga memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Umar bin Khaththab ra membangun sebuah rumah untuk tamu, orang yang kehabisan bekal di jalan, serta orang-orang yang membutuhkan. [Majalah al-Khilafah al-Islaamiyyah, hal. 7]
 *Mengkhatamkan al-Quran. Di bulan Ramadhan*, para shahabat dan sebagian tabiun mengkhatamkan al-Quran, selepas Isya hingga 1/4 malam. Dalam sehari mereka bisa mengkhatamkan al-Quran sekali atau dua kali. Utsman bin Affan, Tamim ad Dariy, dan Said bin Jabir mengkhatamkan al-Quran dalam waktu satu hari satu malam. Mujahid mengkhatamkan al-Quran antara waktu Maghrib dan Isya, setiap malam bulan Ramadhan. Manshur bin Zadan mengkhatamkan al-Quran dari Dzuhur hingga Ashar, dan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Quran antara Maghrib dan Isya sebanyak dua kali.[Imam Nawawiy, At Tibyan fi Adab Hamlat al-Quran, hal. 47-48]
 *Berburu lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan.* Sejak masa Nabi saw hingga sekarang, tradisi berburu lailatul qadar dengan cara itikaf di dalam masjid, dan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah terus berlangsung dan terjaga. [Al-Mudawwanah al-Kubra, juz 1/237]
 *Mengeluarkan zakat fithrah dan menghidupkan malam Iedul Fithriy.* Pada masa Nabi saw dan Khulafur Rasyidin, kaum Muslim mengeluarkan zakat fithrah pada pagi hari sebelum dilaksanakannya sholat Iedul Fithriy.
 *Melaksanakan sholat Iedul Fithriy* di tempat tertentu. Pada masa Nabi saw dan khulafur rasyidin, sholat Iedul Fithriy dilaksanakan di lapangan terbuka di depan pintu masuk kota Madinah sebelah timur. Mereka tidak menyelenggarakan sholat Iedul Fithriy di dalam masjid. Namun, pada masa Umar bin Khaththab ra, kaum Muslim sholat Iedul Fithriy di dalam masjid di karenakan hujan. [Sunan Baihaqiy, juz 3/310]
 *Kaum Muslim bersuka ria dan mengisi Idul Fithriy dengan aneka ragam permainan dan nyanyian yang mubah.* [Ibnu Hazm, Al-Muhalla, juz 5/81]

Inilah realitas Ramadhan di masa Nabi saw dan Khulafaur Rasyidin. Dalam beberapa aspek, suasana Ramadhan di era Nabi dan Khulafaur Rasyidin masih bisa dijumpai dan dijaga hingga sekarang. Namun, ada perbedaan penting Ramadhan sekarang dengan Ramadhan sebelum keruntuhan Khilafah Islamiyyah tahun 1924 Masehi. *Sebelum tahun 1924 Masehi, kaum Muslim menjalankan ibadah puasa di bawah naungan Khilafah Islamiyyah dan kepemimpinan para khalifah yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga Islam dan kaum Muslim.* Adapun sekarang, kaum Muslim harus melalui bulan Ramadhan tanpa adanya pemimpin yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum Islam. Semoga Ramadhan kali ini mampu mengubah yang buruk menjadi baik, dan mengubah yang baik menjadi lebih baik atas ijin Allah swt.
[Fathiy Syamsuddin Ramadhan]


Selasa, 28 Mei 2019

Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fizik.

Profesor: "Apakah Allah menciptakan segala yang ada?"
Para mahasiswa: "Betul! Dia pencipta segalanya."
Profesor: "Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan."
Semua terdiam dan agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu. Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian. Mahasiswa: "Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?"

Profesor: "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada."
Mahasiswa: "Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata 'dingin' untuk mengungkapkan ketiadaan panas. Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?"

Profesor: "Tentu saja ada!"
Mahasiswa: "Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Sedangkan gelap tidak bisa. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.
Tapi! Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensiti cahaya di ruangan itu. Kata 'gelap' dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya. Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?"

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: "Tentu saja ada."
Mahasiswa: "Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga. Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia."

Profesor terpaku dan terdiam!

Dosa terjadi kerana manusia lupa Allah dalam hatinya.. Hadirkan Allah dalam hati kita setiap saat, maka akan selamatlah kita.. itulah _*IMAN..* Sesungguhnya dosa itu zahir saat iman tidak hadir dalam hati kita...


Satu hari, aku berjaga di malam hari bersama ayah ku, sedang orang lain di sekeliling kami masih nyenyak tidur. Aku berkata pada ayah ku, "Tiada seorang pun yang bangun untuk bersolat 2 rakaat?"

Ayah ku membalas, "Lebih baik engkau tidur anak ku, dari bercakap hal buruk tentang orang lain."

Umar Ibn Abd Aziz berkata, "Kita tinggal di zaman yang mana kita akan dianggap beriman, bukan hanya di dalam puasa atau solat, tetapi apabila kita mampu menahan diri dari berkata buruk tentang orang lain, kerana orang yang menghabiskan malamnya bersolat dan siangnya berpuasa akan kehilangan segala amalannya di Hari Kebangkitan jika dia tidak menjaga lidahnya".

Subhanallah wa astaghfirullah…
*آللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّد*
Allahumma solli a'la sayyidina muhammad wa'ala ali sayyidina muhammad
Laahaulaa walaaquw-wata il-laabillahil ‘aliy-yil ‘adziim.
”Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin/pertolongan Allah”
Astaghfirullahal A'zim Allazi Lailaa Hailla Hual hayyul qayyum wa atubuu Ilaih..


Zahir Al-Minangkabawi

🕌 Imam Mujahid rahimahullah, salah seorang ulama rujukan dalam tafsir di zaman tabi’in. Beliau rahimahullah pernah mengatakan:
خَصْلَتَانِ مَنْ حَفِظَهُمَا سَلِمَ لَهُ صَوْمُهُ : الغِيْبَةُ والكَذِبُ
“Ada dua kebiasaan buruk yang barang siapa menjaga diri darinya maka puasanya akan selamat yaitu bergunjing serta berdusta.” (📖Umdatul Qari’: 10/394) alih bahasa atsar: Fahmi Idris, Bekasi

Puasa itu bisa rusak dan bahkan bisa jadi tidak memberikan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga.
🕋 Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (📖HR. Ibnu Majah: 1690)

Apa sebabnya? Dalam hadits lain, 🕋 Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (📖HR. Bukhari: 1903)

Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan ghibah dan perkataan dusta, karena keduanya adalah sebab rusaknya puasa kita.
 


TeRhAnGaT

get this widget here

nyinggoh borok ngekek

MaKaSeH JeNgUk

Blog Archive

TerHangiTTT

SuaM KukU

lukisan simple semua orang ble buat sendiri